Market

Defisit Fiskal Israel Melebar Capai 7,2% PDB, Tulah dari Menyerang Gaza?


Defisit fiskal Israel terus melebar pada bulan Mei, mencapai 7,2% PDB selama 12 bulan terakhir, atau NIS 137,7 miliar atau hampir Rp600 triliun. Artinya naik dari 6,9% PDB pada akhir April. Melihat angka tersebut, negara yang sedang getol melakukan genosida di Gaza ini akan sulit memenuhi target defisif fiskal 6,6% dari PDB.

Menurut laporan akuntan jenderal Kementerian Keuangan Yali Rothenberg, target defisit fiskal pada akhir tahun 2024 sebagaimana ditetapkan undang-undang dalam APBN adalah sebesar 6,6%. Mengutip Globes.co.il, banyak sumber memperkirakan pemerintah akan kesulitan memenuhi target tersebut.

Pada bulan Mei sendiri, defisit mencapai NIS 10 miliar. Namun, kecuali pembayaran pajak yang ditunda karena Paskah, defisitnya lebih tinggi dan diperkirakan mencapai NIS 14,8 miliar, dibandingkan defisit NIS 4,5 miliar pada Mei 2023.

Baca Juga  Sudah Ingatkan Jemaah Haji Ikuti Aturan Saudi, PBNU: Walau pun Sah, tapi Haram

Sejak awal tahun, tercatat defisit fiskal kumulatif sekitar NIS 47,6 miliar, dibandingkan dengan surplus NIS 13 miliar pada periode yang sama tahun 2023. Belanja pemerintah sejak awal tahun berjumlah NIS 249,3 miliar – naik 35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan defisit terbesar disebabkan oleh tingginya belanja pertahanan dan kementerian sipil akibat perang. Namun, meskipun tidak termasuk biaya perang, peningkatan belanja pemerintah adalah sekitar 10,7%. Hal ini berbeda dengan peningkatan penerimaan negara yang hanya meningkat sekitar 2% yang sejak awal tahun berjumlah sekitar NIS 201,6 miliar.

Kementerian Keuangan memperkirakan defisit akan mencapai puncaknya pada bulan September, dan setelah itu akan terjadi penurunan. Namun, sumber-sumber di Kementerian Keuangan tidak sepakat mengenai sejauh mana defisit akan turun. 

Baca Juga  Nokia Lakukan Panggilan Suara dan Audio Imersif Pertama, Apa Kelebihannya?

Departemen Anggaran meyakini defisit akan turun ke target 6,6% yang menjadi dasar APBN disetujui Maret lalu. Di sisi lain, Departemen Akuntan Jenderal yang memantau secara ketat laju belanja melihat situasi yang lebih pesimistis, di mana defisit fiskal pada akhir tahun 2024 akan berada pada kisaran 8% PDB.

Perang di Gaza adalah yang termahal dalam sejarah pendudukan dengan bank sentral memperkirakan total pengeluaran sebesar 250 miliar shekel (US$67,4 miliar) pada tahun 2025. “Kerugian perang, pada tahun 2025, akan mencapai NIS250 miliar (sekitar $67,4 miliar),” kata kepala bank sentral Amir Yaron pada konferensi ekonomi sepuluh hari lalu. 

“Tidak ada keraguan bahwa diperlukan lebih banyak pengeluaran, karena perekonomian membutuhkan keamanan dan keamanan membutuhkan perekonomian. Namun, penting untuk ditekankan – Anda tidak bisa melakukan pemeriksaan terbuka terhadap masalah belanja keamanan, Anda harus menemukan keseimbangan yang tepat di antara hal-hal tersebut,” tambah Yaron. 

Baca Juga  Dirgayuza Setiawan Ungkap Praktik dan Etika Penggunaan AI dalam Penulisan

Ia menambahkan, kerugian pertahanan dan biaya sipil mencapai ratusan miliar syikal – ini merupakan beban yang berat. Premi risiko negara meningkat sementara devaluasi syikal yang berlebihan terus berlanjut, dan devaluasi tentu saja menyebabkan kenaikan harga.

Back to top button